Aurat!!!

January 9, 2009 at 9:32 pm | Posted in Uncategorized | Leave a comment
Tags:

Perbincangan tentang aurat merupakan perbincangan yang bagi saya cukup menarik. Dikatakan menarik, karena memang terdapat debat didalamnya.

Sebagai muslim, saya kerap kali mendengar kata tersebut, terutama jika dikaitkan dengan tubuh perempuan.

Agama punya bahasanya sendiri tentang aurat. Menurut bahasa agama (barangkali lebih cocok interpretasi terhadap agama), sekujur tubuh perempuan itu aurat kecuali wajah dan tangan. Karena sebuah interpretasi, maka auratpun menimbulkan perspektif yang cukup beragam dikalangan yang concern dengan isu aurat.

Aurat sendiri (secara fiqih) berarti bagian tubuh yang harus ditutupi dan tidak boleh diakses oleh publik.

Karena dianggap aurat, maka sekujur tubuh perempuan itu harus dibalut dengan kain kecuali tangan dan wajah yang boleh tampak.

Tapi bagaimana perempuan itu membalut dirinya? Saya pikir, persoalan cara adalah persoalan yang cukup berkaitan dengan budaya seseorang dengan komunitas tertentu.

Pada point ini, perempuan indonesia punya caranya yang berbeda dalam menutupi tubuhnya dengan perempuan yang ada di saudi misalnya. Begitupun perempuan di iran punya style yang berbeda dalam berbusana dengan perempuan muslim di afrika. Bisa jadi mereka berbeda-beda dalam berbusana, tapi satu prinsip mereka yakni menutup aurat. Itu pun jika konteksnya menutup aurat.

Batasan aurat sendiri bisa jadi sangat beragam mengingat dunia ini tidak lah tunggal. Bahkan bisa jadi ada komunitas yang tak punya konsep aurat sama sekali.

Di irian jaya, laki-laki yang hampir telanjang dan hanya secuil kain dibadannya bisa jadi tidak dianggap aurat karena memang sudah terpola seperti itu. Bahkan dibarat, ada komunitas yang berani tampil telanjang dan bahkan mengambilnya sebagai trend dan gaya hidup. Kehidupan mereka tak punya kamus aurat.

Maka saya membayangkan, telah terjadi cara berfikir yang luar biasa berbeda. Yang satu berfikir bahwa perempuan itu aurat sehingga sekujur tubuhnya harus ditutup dengan kain, tapi dibelahan dunia lain, justru tampil telanjang di depan publik bisa jadi merupakan suatu pilihan yang dibanggakan. Dan hal demikian, bukan saja berlaku buat laki-laki, tapi juga perempuan. Bagi mereka, itu lumrah saja. Orang-orang yang aurat-minded bisa jadi kaget dan terperanjat melihatnya.

Berbicara tentang aurat maka tak lepas dari pembicaraan tentang pakaian untuk menutupinya. Dengan kata lain, bagaimana orang itu berbusana.

Dalam komunitas islam, misalnya, berbusana untuk perempuan menjadi perhatian yang cukup intens. Dan debat didalamnya tak pelak mencuat. Tapi, saya ingin melihat kemungkinan-kemunginan kenapa katakanlah seorang perempuan berkerudung.

Seorang perempuan berkerudung misalnya, tentu ada alasan kenapa ia berkerudung.

Bisa jadi ia berkerudung, karena paksaan dari luar. Misalnya saja ada aturan ketat bahwa seluruh mahasiswi wajib pake kerudung. Pada tahap ini, ia mengenakan kerudung bukan berdasarkan kesadaran tapi karena paksaan dari luar. Maka tak heran ada yang pake kerudung, tapi pakaiannya masih memperlihatkan lekuk-lekuk bentuk tubuhnya. Bukankah hal demikian bisa berpotensi menimbulkan aurat bagi yang melihatnya??

Bisa jadi perempuan berkerudung karena mengikuti fashion saja, yakni terombang ambing mengikuti irama fashion terkini. Tentu saja, fashion belum tentu sesuai dengan prinsip ajaran. Maka tak heran muncul istilah, berkerudung tapi telajang. Itu kan artinya berkerudung tapi tetap saja aurat.

Tapi ada juga yang berkerudung dengan penuh kesadaran bahwa hal itu bisa melindungi dirinya dari jahatnya alam dan merasa nyaman memakainya. Ia berkerudung bukan karena paksaan atau pun fashion. Ia berusaha untuk memadukan kesopanan berbusana (decency) dan kebersahajaan dalam berfikir dan berkepribadian.

Maka, dalam hal ini, implikasinya, sangat mungkin terjadi ada perempuan yang fanatik banget dengan jilbabnya atau kerudungnya, tapi prilakunya sinis dan menyakitkan. Bukankah sikap kecutnya dan muka masamnya adalah aurat juga? Kenapa ia care sama busananya tapi tidak care sama aurat lidahnya yang menyakitkan orang lain?

Implikasinya juga, bisa jadi ada perempuan yang tak berkerudung, tapi sikapnya sangat humanis, ramah, suka menolong dan respek terhadap manusia lainnya. Ia berusaha untuk mencerahkan orang lain.

Maka, saya pun mempertanyakan kembali konsep aurat. Lidah bisa jadi wilayah yang mengandung aurat, karena ia bisa menimbulkan fitnah. Oleh karena itu, lidah perlu dijaga dengan baik dan jangan diumbar sehingga tidak melahirkan kebohongan-kebohongan baik terhadap diri maupun terhadap publik. Tangan pun bisa menjadi aurat jika si empunya menggunakannya untuk menikam dan memukul orang lain.

Orang mungkin berfikir bahwa perempuan yang tak berkerudung adalah aurat. Orang mungkin berfikir bahwa perempuan yang bernyanyi adalah aurat, karena suara perempuan dianggapnya itu aurat. Tapi orang tak pernah berfikir bahwa kemiskinan itu aurat juga yang sifatnya sosial. Orang pun tak pernah menyangka bahwa kekerasan itu adalah juga aurat. Kenapa aurat-aurat sosial itu dibiarkan terbuka didepan mata.

Bukankah aurat-aurat sosial itu membutuhkan pakaian yang pas buat dirinya. Tentu saja pakaian disini tak bisa diartikan tekstual. Sifatnya sangat kontekstual sekali. Pakaian itu bisa berbentuk semangat hidup sederhana, bekerja keras, tidak meminta-minta, respek terhadap sesama, appresiatif terhadap beda, care terhadap lingkungan dan bersahabat. Kalau ada orang yang hidup glamor diatas penderitaan orang lain maka ia sesungguhnya telah memperlihatkan aurat-aurat dirinya kepada orang lain, dan itu haram hukumnya!!

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: