Nyontek, Pengalamanku Waktu Bocah

January 9, 2009 at 9:30 pm | Posted in Uncategorized | Leave a comment
Tags:

Waktu kecil, saya punya pengalaman mencontek saat ujian. Penyebabnya, karena saya tidak tahu apa yang harus saya jawab. Tapi kenapa saya tidak bisa menjawab? Apakah karena saya tidak belajar, tidak pernah membaca ? atau apakah membaca, tapi soal-soal yang ditanyakan diluar apa yang dibaca atau dipelajari?

Pertanyaan lain juga, adalah kenapa belajar itu terjadi ketika ujian justru berada diambang pintu? Untuk hal ini, ada sebutan sistem kebut semalam (SKS). Jadi sistem belajarnya dadakan saja.

Yang saya rasakan waktu bocah, praktek mencontek ini akibat kemalasan saja. Waktu yang saya miliki lebih tersedot untuk bermain-main. Belajar hanya terjadi dikelas saja. Guru sering memberi pekerjaan rumah (PR). Namun karena saya bawaannya malas, PR pun tak jarang dihiraukan begitu saja. Kalaupun dikerjakan, hanya sebatas sekedarnya saja. Jadi gak pernah seirus.

Saya sering dimarahim ibu guru karena pekerjaan rumah saya sering terbengkalai. Biasanya saya sadar kalau saya punya PR, justru ketika keesokan harinya saya akan memulai belajar dikelas. Itupun karena mendapat sinyal dari teman-teman.

Akhirnya, saya pun mengerjakan PR tergesa-gesa. Pas saya tidak tahu, praktek mencontek pun akhirnya menjadi senjata andalan saya. Tentu saja ibu guru datang dan memasuki kelas. Hati saya pun tak nyaman karena ada semacam rasa cemas dan takut.

Takut ditanya dan ditunjuk untuk menjelaskan PR. Untung kalau paham, tapi sayang seringkali tidak paham. Jadi waktu itu, saya hanya memindahkan karya teman saya ke dalam catatan saya. Waktu bocah, saya suka melakukan plagiat.

Artinya, pengalaman-pengalaman tadi merupakan cermin dari ketidak jujuran, tidak percaya diri, tidak ada dignity, dan tidak punya nyali. Lalu saya bertanya, kenapa kok masa kecil saya seperti itu? Apa yang mempengaruhi saya untuk bersikap sepecundang itu? Nampaknya yang menjadi hipotesa saya adalah bagaimana lingkungan mempengaruhi saya, dan bagaimana saya mempersepsinya.

Alhamdulillah karakter pecundang itu tidak permanent dalam diri saya, seiring bertambahnya pengalaman, kedewasaan, dan tanggung jawab. Saya tidak tahu persis bagaimana perubahan itu terjadi.
Namun kalau saya harus menjawab, maka jawabannya adalah proses self-awarness saya bermain, selalu aktif dan memperanyakan. Ternyata pengalamanlah yang kemudian membuat saya lebih bisa belajar untuk belajar bijak.

Masa kecilku bisa menjadi cermin dan pelajaran bahwa ternyata praktek nyontek justru akan membuat tatanan menjadi ruksak. Juga sebagai cermin dari tidak adanya manajemen dalam hidup. Tidak punya kepedulian. Hidup tanpa dignity.

Saya pun sadar betul bahwa sangat mungkin terjadi bahwa praktek korupsi, nepotisme, dan praktek-praktek kotor lainnya bermulai dari kebiasaan mencontek.

Saya setuju apa yang dikatakan Mba Jenni, bahwa penyakit yang membuat Indonesia gak pernah maju, dan malah menunjukkan gelagat kemunduran, adalah penyakit mental yang sudah kronis dan melembaga.

Oleh karena itu, kalau ingin maju, maka harus berani melepaskan ethos pecundang dan menggantikannya dengan ethos pemenang. Akhirnya saya hanya bisa berujar “just change to the right one”.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: